Tampilkan postingan dengan label PARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PARA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2015

#‎PrayforVanuatu‬ dan Negara Melanesia lainnya, Perjuangan West Papua Jalan Terus

7 Wilayah Adat Berdoa bagi Negara-negara Melanesia dan Vanuatu
Akhir-akhir ini terjadi bencana alam yang sangat memilukan yaitu angin topan Pam yang terjadi di kawasan Fasifik, tepatnya di negara-negara Melanesia yang serumpun dengan bangsa West Papua, yaitu Vanuatu tepatnya. Topan Pam bertiup lebih lama di Vanuatu dari kawasan Hampir seluruh perkampungan di Vanuatu rusak karena topan tropis PAM yang tiba di negara tersebut hari Jumat (13/2/2015) kemarin. Jumlah kematian mencapai 44 orang, namun jumlah ini hanyalah laporan sementara yang belum dikonfirmasikan (baca: Jubi/15/03).

Di Kepulauan Solomon, Tikopia adalah salah satu pulau yang menerima dampak terburuk setelah topan Pam melewati pulau itu. Juga di Fiji, hingga Minggu (15/03) sore, penduduknya telah diminta untuk bersiap menghadapi kemungkinan paling buruk yang bisa terjadi karena topan Pam. (Baca: lanjut Jubi/15/03)

Kamis, 26 Februari 2015

Andai Aku Seorang Indonesia

Aku Papua/ Foto:Ist


Oleh: Topilus B. Tebai.

Alangkah senangnya hati ini, seandainya saya mendapat kesempatan dari Tuhan, sesaat saja, menjadi seorang Indonesia. Ya, andai saya menjadi orang Indonesia, dengan kulitnya yang sawo matang, dengan rambutnya yang lurus, dan berperilaku seperti bangsa Indonesia.

Maksud saya, menjadi orang Indonesia sejati, tidak memiliki percampuran darah, dan punya kedudukan terhormat dalam pemerintahan negara Indonesia.

Saya pasti akan bersorak sorai bila sampai pada bulan Agustus, dimana ketika hari yang kunanti-nantikan itu tiba,  tanggal 17 Agustus,  aku merayakan hari kemerdekaan bangsaku, Bangsa Indonesia.

Saya, bila menjadi orang Indonesia, akan dengan gembira memandang ke angkasa biru, tempat dimana akan kulihat sang Merah Putih berkibar. Dengan kagum, akan aku lihat bendera itu, dan akan kubanyangkan betapa para pejuang yang telah mendahuluiku berjuang demi kemerdekaan yang sedang kunikmati ini.

Di Papua ini, satu hal yang membuatku paling bangga sebagai bangsa Indonesia adalah ketika bangsa Papua pribumi, mereka ikut pula bersama kami, merayakan hari ulang tahun kemerdekaan kami.

Jumat, 07 November 2014

Orang-orang Dari Dalam Perut Bumi

Ilustrasi (Jubi/Saut Marpaung)



Diceritakan kembali oleh Elvis Kabey

Konon, di dalam perut bumi Danau Sentani bagian tengah, hidup komunitas masyarakat asli yang terisolasi dari permukaan bumi. Kehidupan yang sangat tersekat mendorong semangat empat orang muda dari komunitas ini untuk mengadakan perjalanan petualangan ke permukaan bumi melalui lorong penghubung yang gelap. Dengan keberanian yang luar biasa Roomehue, Khabey, Yokuraijoku dan Rookoro menelusuri lorong gelap perut bumi hingga ke tepi pintu keluar permukaan bumi, mereka duduk beristirahat. Roomehue, sang pemimpin petualangan meminta kepada Khabey keluar pintu lorong itu untuk memantau situasi di permukaan bumi. Ketika Khabey keluar di tempat yang bernama Aminjauw, ia mendengar suara tangisan orang dari Kampung Yomakhe. Khabey bergegas kembali kea rah perut bumi untuk memberitahukan peristiwa itu kepada ketiga orang temannya. Setelah mendengar berita yang disampaikan Khabey, Roomehue memerintahkan mereka bertiga bersamanya keluar menuju Aminjauw. Mereka berunding di Aminjauw dan keputusannya adalah mengutus Khabey. Khabey sampai di Yomakhe ternyata orang-orang kampong itu sedang berkabung meratapi sesosok jasad manusia yang meninggal karena tenggelan di Danau Sentani. Sekembalinya ke Aminjauw, Khabey memberitahukan keadaan yang dilihatnya kepada ketiga temannya, kemudian empat orang itu memutuskan untuk menetap sementara di Aminjauw sambil menjajak kemungkinan menjadikan wilayah itu sebagai tempat pemukiman tetap.