Tulisan ini sedikit menarik,
ketika saya sendiri agak ragu untuk menuliskannya. Banyak pertimbangan yang
terjadi dalam pikiran saya karena adanya sedikit benturan pemikiran antara
teori besar para filusuf dunia dan kebiasaan orang Papua yang menjadi jaminan
hidup mereka.
Dalam tulisan ini mungkin
saya tidak akan membahas masalah konsep dialog yang menjadi masalah besar
hingga sampai ini. Tidak jauh beda tetapi pandangan perspektifnya yang menjadi
masalah dan hubungan antara konsep dialog dan tradisi orang Papua dalam
menyelesaikan masalah.
Dalam masyarakat multikultur
dikenal dengan adanya suatu paham yang kita kenal dengan istilah disorganisasi
dalam sistem yang berbeda. Konflik yang terus terjadi silih berganti karena
adanya perbedaan persepsi mulai dari yang paling kecil hingga mencangkup
kehidupan sosial masyarakat.
Dalam teori Marx, Marx
meyakini bahwa konflik terjadi karena eksistensi hubungan pribadi dalam produksi
dan kelas-kelas sosial sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Kelas
–kelas sosial yang diyakini Marx, lahir karena adanya kepentingan, hingga
lahirlah konflik yang mungkin sampai sekarang terjadi dalam sosial masyarakat
kita.




