Kamis, 26 Februari 2015

Andai Aku Seorang Indonesia

Aku Papua/ Foto:Ist


Oleh: Topilus B. Tebai.

Alangkah senangnya hati ini, seandainya saya mendapat kesempatan dari Tuhan, sesaat saja, menjadi seorang Indonesia. Ya, andai saya menjadi orang Indonesia, dengan kulitnya yang sawo matang, dengan rambutnya yang lurus, dan berperilaku seperti bangsa Indonesia.

Maksud saya, menjadi orang Indonesia sejati, tidak memiliki percampuran darah, dan punya kedudukan terhormat dalam pemerintahan negara Indonesia.

Saya pasti akan bersorak sorai bila sampai pada bulan Agustus, dimana ketika hari yang kunanti-nantikan itu tiba,  tanggal 17 Agustus,  aku merayakan hari kemerdekaan bangsaku, Bangsa Indonesia.

Saya, bila menjadi orang Indonesia, akan dengan gembira memandang ke angkasa biru, tempat dimana akan kulihat sang Merah Putih berkibar. Dengan kagum, akan aku lihat bendera itu, dan akan kubanyangkan betapa para pejuang yang telah mendahuluiku berjuang demi kemerdekaan yang sedang kunikmati ini.

Di Papua ini, satu hal yang membuatku paling bangga sebagai bangsa Indonesia adalah ketika bangsa Papua pribumi, mereka ikut pula bersama kami, merayakan hari ulang tahun kemerdekaan kami.

Kapitalis yang Meluas, Siapa Salah?

Oleh: Victor Mayor

”Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri,” Pdt. I.S. Kijne pada 25 Oktober 1925 di Wasior-Manokwari.

Tulisan ini sebuah refleksi dan kritik kepada semua elemen pemerintah Papua dari berbagai segi kehidupan. Mungkin terlalu dini kalau saya bilang seperti itu, tetapi entahlah, memang kondisi masyarakat Papua sedang terjepit dan dijajah oleh bangsa asing yang mau menghancurkan kehidupan orang asli Papua.

Sebenarnya tulisan ini mengritik kebijakan pemerintah provinsi Papua dalam hal ini seluruh bupati dan kepala-kepala dan kaki tangan Indonesia yang bergaya sama seperti raja di tanah Papua. Saya seorang masyarakat biasa yang tidak mempunyai apa-apa, tapi mudah-mudahan melalui tulisan ini rakyat sadar tentang hal ini dan perlu untuk melawan semua ketidakadilan yang terjadi di tanah Papua ini.

Rabu, 25 Februari 2015

Transformasi Agama dan Rekonsiliasi Konflik di Papua

Oleh: Fadhal Heger

Bermula dan berangkat dari persoalan konflik yang belum juga usai dengan sebuah perspektif yang berbeda dengan jalan perjuangan yang sudah ada dan mungkin menjadi sebuah pengantar yang bisa membantu kita untuk merekonsiliasi persoalan ini dengan cara yang berbeda, yaitu dengan mentransformasikan agama sebagai sebuah wadah api perlawanan berusaha meluruskan dan mengkritisi garis perjuangan ini dengan kaca mata yang berbeda.

Agama mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menyelesaikan persoalan bangsa, tetapi bagaimana di tengah-tengah multi agama yang sudah terbangun di Papua itu menjadi sebuah wadah, biar tidak bias melihat persoalan dengan kaca mata yang sama. Peran gereja sangat dibutuhkan begitu juga peran umat beragama lainnya, seperti Hindu, Budha dan Islam yang merjalelah di Papua.

Sabtu, 17 Januari 2015

Belajar dari "Tertahannya" Delegasi Papua Barat di PNG (Bagian II)



























Oleh: Vo Nguyen Giap Mambor

Beberapa kawan minta saya memetakan (memberikan pandangan), terkait persoalan yang menimpa sekitar 76 (atau lebih) delegasi Papua Barat (dan termasuk rombongan Papua New Guinea), yang hingga kemarin (4 Desember 2014)  "tertahan" di Distrik Gerehu, sebuah kota di pinggiran sebelah utara Port Moresby -- kota Gerehu dikenal luas karena memiliki perumahan besar, dan kebanyakan dihuni warga Papua Barat.

Saya menyanggupi tawaran tersebut dan semoga pemetaan ini bisa membantu kawan-kawan melihat "kesulitan" diplomasi kita hari-hari ini dan ke depannya, menuju cita-cita pembebasan Nasional Bangsa Papua Barat.

Beberapa faktor (atau kelompok) yang menghambat keberangkatan puluhan delegasi --tokoh terkemuka di tujuh wilayah adat Papua-- ini ke Saralana, Port Villa, Vanuatu.

PERTAMA: Peran pemerintah Amerika Serikat (AS). Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Papua New Guinea (PNG) saat ini adalah Melanie Higgins. Melanie sebelumnya menjabat Sekertaris Dua Bidang Politik di Kedutaan Besar AS untuk Indonesia (2009-2013), dan pindah ke PNG awal tahun 2013).

Belajar dari "Tertahannya" Delegasi Papua Barat di PNG (Bagian 1)
























Oleh: Vo Nguyen Giap Mambor

Beberapa kawan minta saya memetakan (memberikan pandangan), terkait persoalan yang menimpa sekitar 76 (atau lebih) delegasi Papua Barat (dan termasuk rombongan Papua New Guinea), yang hingga kemarin (4 Desember 2014)  "tertahan" di Distrik Gerehu, sebuah kota di pinggiran sebelah utara Port Moresby -- kota Gerehu dikenal luas karena memiliki perumahan besar, dan kebanyakan dihuni warga Papua Barat.

Saya menyanggupi tawaran tersebut dan semoga pemetaan ini bisa membantu kawan-kawan melihat "kesulitan" diplomasi kita hari-hari ini dan ke depannya, menuju cita-cita pembebasan Nasional Bangsa Papua Barat.

Beberapa faktor (atau kelompok) yang menghambat keberangkatan puluhan delegasi --tokoh terkemuka di tujuh wilayah adat Papua-- ini ke Saralana, Port Villa, Vanuatu.

PERTAMA: Peran pemerintah Amerika Serikat (AS). Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Papua New Guinea (PNG) saat ini adalah Melanie Higgins. Melanie sebelumnya menjabat Sekertaris Dua Bidang Politik di Kedutaan Besar AS untuk Indonesia (2009-2013), dan pindah ke PNG awal tahun 2013).